Contoh: Hujan di Yogyakarta

Contoh: Hujan di Yogyakarta

Ini adalah contoh cerita pendek (cerpen) berjudul ‘Hujan di Yogyakarta’ karya Aliya Nur Pramudita, yang Admin ambil dari situs web Majalah Gadis dengan alamat https://www.gadis.co.id/Percikan/hujan-di-yogyakarta.


 

Bus pariwisata yang aku tumpangi terparkir di parkiran khusus wisatawan. Kulihat teman temanku sudah turun satu persatu dari bus ini. Aku pun akhirnya memilih untuk turun dan membeli buah tangan untuk keluarga. Hari sudah sore, semua murid harus bergegas karena free time yang di berikan hanya satu jam.

Aku melihat sekitar Yogyakarta, banyak sekali bangunan-bangunan tua yang klasik namun unik. Museum sejarah ada dimana mana. Bahkan setiap pinggir jalan ada mading tentang sejarah daerah ini. Beda sekali dengan kota asalku.

***

Museum yang aku kunjungi cukup ramai. Teman teman dari study tour sekolahku pun tampak memenuhi museum tua ini. Namanya Museum Sonobudoyo. Museum ini banyak sekali menyimpan keris dari berbagai nusantara, menarik. Aku berkeliling museum untuk melihat lihat barang barang peninggalan jaman dahulu.

“Di sini selain keris dari Jawa, juga ada dari Sumatra, Sulawesi, Madura sama Bali.” Kata seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menengok ke sumber suara, ternyata itu Kak Dani, tour guide di busku. Aku ber oh- ria tanda mengerti. “Jangan kelamaan di sini ya, hujan. Nanti jam 5 langsung balik ke bis, ok?” Pesannya kemudian berlalu meninggalkanku sendirian sebelum aku merespon perkataannya. Wajahnya cukup tampan, aku sedikit tersipu saat melihatnya tadi. Jujur saja aku tidak pernah peduli dengan keberadaannya didalam bus. Namun sejak saat ini, aku akan peduli.

***

Hujan deras membasahi baju dan belanjaanku. Aku berteduh di halte untuk sementara. Halte ini sepi, hanya aku yang duduk disini. Aku sedikit meringkuk merasakan dinginnya hujan, parkir bus masih cukup jauh dari sini. Tiba-tiba sesuatu yang hangat seperti membalut tubuhku. Aku melihat sebuah jaket menutupi tubuhku dan seseorang berdiri dihadapanku. Ternyata itu Kak Dani, tour guide yang kutemui di museum tadi.

“Kamu pakai ini, nanti masuk angin. Abis itu ke bus. Temen- temenmu udah pada nunggu, tuh.” kata Kak Dani. Aku mengangguk lalu bangkit dari duduk lalu tersenyum kecil. “Makasih ya, kak.” ujarku pelan, rona pipiku sepertinya memerah saat ini. “Ya. Kakak duluan, ya.” Pamitnya sembari mengusak rambutku lembut lalu berjalan meninggalkanku kembali sendirian di halte bersama jantung yang berdegup kencang. Aku terdiam sesaat lalu tersenyum lebar dan berlari menerobos hujan dengan jaket milik Kak Dani. Tak peduli dengan sepatu yang basah akibat genangan air.

Hujan di Yogyakarta ini awalnya membuatku sangat jengkel. Namun tiba tiba membawa kebahagiaan dengan kelemahannya. Hujan sore ini dingin dan menyebalkan, lalu lelaki itu datang menjadinya sesuatu yang membahagiakan.

 

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan