Contoh: Sepasang Mata

Contoh: Sepasang Mata

Ini adalah contoh cerita pendek (cerpen) berjudul ‘Sepasang Mata’ karya Herlina Mustikasari, yang Admin ambil dari Majalah Hai nomor 9 tahun XIII tanggal 28 Februari – 6 Maret 1989 halaman 36-38.


 

Surat itu tiba-tiba saja sudah berada di meja tulis. Amplopnya putih bersih tanpa noda dan tanpa sebaris katapun. Mala membukanya, kertas berwarna hitam tampak di bawah cahaya lampu 25 watt. Dia dapat membaca barisan kata-kata yang ditulis dengan tinta berwarna putih. Putih, di tengah pekatnya warna hitam, seperti goresan yang tiba-tiba muncul dari alam kubur.

Inilah aku. Itu baris pertamanya, dengan huruf-huruf yang bergetar. Aku selalu menatapmu dari kejauhan, tanpa kau perdulikan. Akan kujamah wajahmu, akan kupaksa kau balik menatapku. Inilah aku, si mata itu… inilah aku…

Tubuh Mala bergidik hebat.

Mata. Mata itu. Yang selalu menatapnya dari dalam tembok, dengan pandangan meratap dan memohon. Sekaligus membencinya. Mala terhenyak. Tak sadar wajahnya menoleh ke luar jendela, yang tiba-tiba saja sudah terbuka. Pandangannya terbentur ke tembok di luar kamarnya. Tembok setinggi 3 meter, yang membatasi rumah mereka dengan kebun tetangga. Pada kegelapan malam, di antara desiran angin dingin, Mala dapat melihat sepasang mata menatapnya dengan mengerikan. Sepasang mata yang selalu menatapnya dari waktu ke waktu. Mata yang melekat di tembok itu.

Mala menjerit keras sekali, ingin meminta kekuatan dari orang lain. Melengking, menembus malam.

***

Mala Larasati, adalah adikku satu-satunya. Bulan lalu, kami pindah ke sebuah rumah besar di pinggiran kota, yang dijual dengan harga miring, karena pemiliknya memiliki banyak rumah yang lebih mewah di pusat kota, dan lebih gemar bersenang-senang di waktu libur ke luar negeri, daripada di perbatasan kota seperti ini.

Aku mendapat sebuah kamar di tingkat atas. Kamar Mala yang tidak segesit aku, berdampingan dengan kamar Ayah dan Ibu. Kami merasa seperti orang kaya, yang tidak perlu bersempit-sempit seperti di rumah yang dulu.

Tembok setinggi 3 meter, membatasi pekarangan rumah kami dengan kebun tetangga dan hutan-hutan kecil. Tembok itu penuh paku bekas tempat menggantung anggrek dan pakis. Sayang, kami tidak gemar menanam. Jadi tembok itu dibiarkan saja kosong dengan reretakan semen kasar di sana-sini. Itulah, paku-paku dan reretakan semen kasar itu yang menakutkan Mala.

Mala yang lebih suka menyendiri itu, merasa ada sepasang mata yang melekat di tembok tinggi itu, yang menatap lurus ke arahnya, terus-menerus. Yang membuatnya lebih takut, selalu, matanya serasa ditarik untuk melihat ke tembok itu.

Sekilas, paku-paku bekas suplir dan anggrek itu, memang seperti mata-mata yang kecil. Sekilas, dan akhirnya memang tetap saja paku.

“Mbak tidak percaya padaku?” tanyanya, ketika aku lagi-lagi tertawa mendengar ceritanya. “Mata itu memang selalu menatapku, memaksaku untuk melihat ke arahnya.”

“Oh? Seperti orang jatuh cinta saja, ya,” selaku tak perduli.

Mala menatapku, “Dia kesakitan, Mbak,” katanya pelan. Dan aku terkeke-kekeh mendengarnya.

Tanggapan yang kuberikan sama dengan tanggapan Ayah dan Ibu. Tapi aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mala. Dia tetap saja ketakutan, dan berkali-kali minta kutemani tidur atau tiba-tiba saja sudah muncul di kamarku, dan tidur di situ sampai pagi. Mala sudah besar, 15 tahun. Aku tak mau dia jadi penakut, apalagi untuk hal-hal yang tidak masuk akal begitu. Suatu malam, sebelum tidur kukunci pintu kamarku. Tengah malam, Mala datang menggedor-gedor pintu, minta dibukakan.

“Mbak…, Mbak! Buka, Mbak!” teriaknya penuh kengerian. Aku merinding mendengar suaranya. Tapi aku mengeraskan hati. Mala harus berani. Bermenit-menit dia mengetok dan menggedor-gedor kamarku. Bermenit-menit, sampai akhirnya tak ada suara lagi. Sepi, dia sudah kembali ke kamarnya. Memang seharusnya begitu. Mala tak boleh taku menghadapi bayangan dan khayalan yang diciptakannya sendiri.

Tetapi, paginya ketika aku membuka pintu, aku kaget sekali. Hanya dengan memakai selimutnya, tanpa bantal, Mala tidur di muka pintu kamarku. Aku tak mengerti, mengapa Mala setakut ini. Salahkah sikapku semalam? Dan aku jadi lebih menyesal lagi, ketika setelah itu, suhu badan Mala meninggi. Entah karena masuk angin karena tidur di luar, ataupun bukan, yang jelas Mala sakit. Suhu badannya naik turun seperti orang kena malaria.

Dan berkali-kali setelah itu ia mengigau.

“Mala takut, Bu… Takut. Mala takut, kalau mata itu keluar dari tembok, dan tiba-tiba saja sudah berda di depan Mala. Mala takut,” katanya kepada Ibu.

Tapi, mata yang mana?

Untuk menenangkan perasaan Mala, akhirnya Ayah memutuskan mencat kembali tembok itu dan mencabut paku-paku bekas anggrek serta pakis. Dalam satu hari semuanya selesai. Yang terpampang sekarang, bukan lagi tembok kusam yang tak terurus, tapi tembok dengan warna kuning gading yang ceria. Beramai-rama kami melihat tembok itu dari dekat, dan memperhatikan warna kuningnya yang menyilaukan. Tetapi tepat di depan kamarnya, wajah Mala yang tersenyum berubah pucat pasi memandang tembok kuning di hadapannya. Badan Mala tiba-tiba menjadi sedingin es dan menggigil dengan hebatnya. Dia mencengkeram tanganku erat sekali.

“Mbak, … mata itu, Mbak, marah sekali… menatapku marah sekali. Dekat sekali di hadapanku,” katanya tersendat-sendat, sebelum tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas sekali.

Aku, Ayah dan Ibu menatap lekat-lekat ke permukaan tembok yang hanya berjarak 30 cm di hadapan kami. Bersih, apik, dengan warna kuning gading yang manis.

***

Setelah mengalami kejadian-kejadian yang tak terpikirkan oleh akal sehat, lama-kelamaan Ibu – sebagai perempuan yang mengasihi anak-anaknya lebih dari apapun, makin merasa gundah. Terlebih ketika suatu malam, aku mendapati Mala berdiri terpaku, menatap keluar jendela kamarnya. Angin malam yang dingin berhembus mempermainkan tirai. Aku terkejut melihatnya. Tak biasanya dia mau masuk ke kamarnya, di malam hari lagi. Kusentuh bahunya perlahan, dan ikut menatap keluar. Tidak ada apa-apa, hanya tembok kuning itu, selebihnya sepi dan gelap. Dingin.

“Aku ingin dia tahu, kalau aku tidak takut padanya,” gumam Mala. “Lihat Mbak, matanya marah sekali menatapku. Warna merah di tengah bola matanya memancar-mancar. Matanya memang mengerikan. Tapi aku ingin dia tahu, kalau aku tidak takut. Aku ingin dia tahu…” katanya emosi.

Aku membimbing Mala meninggalkan jendela. Ketika kututup jendela, bau yang aneh menerpaku. Bulu kudukku meremang. Ah, hanya bau tanah, hiburku. Tapi malamnya, panas Mala sangat tinggi.

Akhirnya, Ibu mendesak Ayah supaya pindah dari rumah besar ini. Kami tidak tega melihat keadaan Mala. Sukar untuk mencari rumah besar yang murah zaman sekarang ini, walaupun di pinggiran kota. Tapi apa boleh buat, itulah cara yang kami anggap paling baik. Menjual rumah ini dan pindah.

Malam sebelum pindah itulah, jeritan Mala melengking sampai ke loteng, dan atap-atap rumah. Kami semua terbangun. Dengan terengah-engah Mala bercerita,

“Dia mengirim surat padaku. Kertasnya hitam sekali, dan tulisannya putih, seperti tiba-tiba datang dari alam kubur. Dia akan menemuiku. Aku takut… takuuuuuutt,” jeritnya histeris. Dia? Mata itu?

Keesokannya kami pindah.

***

Rumah baru kami berada di tengah kota. Entah karena suasana yang ramai, tidak dingin dan sepi seperti dulu, entah karena banyak teman baru, ataupun hal lainnya, Mala menjadi sehat kembali. Kadang-kadang aku menggodanya soal mata yang dikhayalkannya itu. Mata yang menatapnya mengerikan dari dalam tembok.

Dan selalu – dia hanya melengos sambil berkata, “Aku tidak bohong, Mbak. Aku memang melihatnya. Dan dia menatapku terus-menerus. Aku tidak bohong.”

Ya, mungkin saja. Seperti kata kawanku, Ami. Ada orang-orang tertentu yang dapat melihat dan merasakan sesuatu yang tidak teraba orang lain. Mereka lebih peka. Atau sinting? Entahlah.

Setengah tahun kemudian, kegemparan lain terjadi. Pembeli rumah itu, ingin merombak tanah kosong dan hutan-hutan kecil di sekelilingnya menjadi kebun, dan menambah beberapa hektar tanah. Tembok setinggi 3 meter yang sudah kami cat kuning muda itu, dibongkarnya. Terjadi sesuatu yang mencengangkan. Surat-surat kabar memuatnya, dengan judul yang sensasional, tertulis besar-besar.

KUBURAN DI BAWAH TEMBOK
Tengkorak dan potongan tulang-tulang dari bagian tubuh manusia, ditemukan di dasar reruntuhan tembok sebuah rumah di pinggiran kota. Mangalon Sitompul pemilik rumah yang baru membelinya beberapa bulan lalu, mengatakan tak tahu menahu dan bahkan terkejut sekali menemukan kerangka manusia yang seperti dipotong-potong itu, tertanam sedalam 3 meter, di bawah tembok pembatas rumahnya…

Aku terhenyak. Aku tak habis pikir, dan tak habis-habisnya merangkaikan dengan apa yang sudah dialami Mala. Tengkorak dan tulang-tulang itu, tepat tertanam di bawah tembok muka kamarnya dulu. Aku tak habis pikir.

Masalah itu diproses sekian lama, kami dipanggil berkali-kali untuk menghadap polisi.

Beberapa minggu kemudian, aku lebih terkejut lagi, ketika Mala mendatangiku, sambil membawa koran terbitan hari ini.

“Mbak, Mala tahu siapa mata itu, yang selalu menatapku terus-menerus dari dalam tembok.” Tanpa menunggu komentarku, dibukanya surat kabar yang dibawanya. “Ini dia pemilik mata itu,” ditunjuknya foto laki-laki 30 tahunan. “Dia dibunuh oleh kedua adiknya sendiri 9 tahun yang lalu. Mayatnya dipotong-potong dan ditanam di muka kamarku dulu. Tepat di atasnya dibangun tembok setinggi 3 meter. Tidak ada yang tahu sampai kemarin dulu.” Mala meringis, “Lihat Mbak, memang mata ini yang kulihat di tembok. Menatapku marah, dan tiba-tiba menjadi menakutkan, ketika kita baru saja selesai mencat tembok dengan warna kuning. Rupanya dia meratap-ratap minta tolong untuk membongkar tembok dan menemukan tulang-tulangnya,” Mala menggeleng sedih.

Antara rasa percaya dan tidak, aku mendekatkan kepala untuk melihat lebih jelas foto itu. Semakin dekat, semakin aku merasakan, bahwa kedua matanya mirip sekali dengan pantulan 2 buah paku bekas anggrek di muka kamar mala dulu. Pekat tanpa cahaya, menatap lurus ke depan. Tiba-tiba saja, bulu kudukku meremang, merasakan sesuatu yang mengerikan.

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan