Contoh: Balada Si Roy – Intermezzo

Contoh: Balada Si Roy – Intermezzo

Ini adalah contoh cerita berseri, yaitu seri ‘Balada Si Roy’ berjudul ‘Intermezzo’ karya Gola Gong, yang Admin ambil dari Majalah Hai nomor 15 tahun XIII tanggal 11 – 17 April 1989 halaman 26-28.


dalam sepi kian bertahta
di hati. adakah anganan lain?
desah lain? lagu lain? atau
satu puisi paling sahdu
belum sempat kuresapi?
dalam gelak kotaku

Rys Revolta

 

Sudah tengah hari. Si bandel itu menggeliat kegerahan. Dia membuka kaosnya dan dengan malas sempoyongan membuka jendela kamarnya. Angin berhembus pelan menyejukkan ruangan. Badannya kusut dan matanya merah kurang tidur.

Terdengar pintu kamarnya diketuk. “Sudah bangun kamu, Roy?” terdengar suara mamanya.

Roy mengucek-ucek matanya. Membuka pintu. Menghindari tatapan mamanya dan ngeloyor ke kamar mandi. Wanita setengah baya itu kelihatan pasrah saja melihat kelakuan anaknya. Dia mengeluh dalam hati dan merasa sia-sia saja dalam mendidik anaknya. Perasaan bersalah terhadap mendiang suaminya mengetuki hatinya.

“Ada surat buat kamu, Roy,” kata mamanya. “Mama taruh di bufet.”

Roy hanya mengangguk.

“Kamu minum-minum semalam ya, Roy?”

Roy tidak menjawab. Dia langsung masuk ke kamar mandi.

Wanita setengah baya itu mengeluh lagi.

Kini si Roy tampak segar sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia begitu menyesal melihat mamanya duduk merenung di meja makan. Dia lantas berusaha menghiburnya.

“Wah, makan besar rupanya siang ini ya, Ma!” dia menyiduk nasi banyak-banyak ke piringnya. Mencoel sambel dan mencicipi sayur asem yang masih panas. Wuiiih, sedapnya! “Makan sama-sama ya, Ma,” dia menyiduk nasi ke piring satu lagi dan meletakkan di depan mamanya.

Tiba-tiba muncul Opik yang sedang dikejar-kejar Toni. Anak kecil itu tertawa-tawa meledek, karena Toni mengejarnya tertatih-tatih dengan kaki palsunya. Toni kelihatannya sudah mendingan menguasai kaki palsunya. Mereka tampak gembira sekali.

“Kena!” seru Toni girang memeluk anak kecil itu.

Opik tertawa kegelian.

“Makan, Ton!” kata Roy.

“Kebetulan, nih!” Toni buru-buru mengambil piring.

Mereka akhirnya menikmati makan siang dengan kegembiraan. Ya, makanlah selagi kita lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Itu agar kita terbiasa merasakan bagaimana lapar dan mengekang hawa nafsu kita.

“Aku kemaren nengok Iwin. Dia nanyain kamu, Roy. Katanya, kamu nggak pernah nengok. Kenapa, Roy?” Toni meneguk air terburu-buru. Rupanya dia kabeuheulan.

Roy hanya mendengarkan saja.

“Itu kan bukan kesalahan kamu, Roy. Iwin juga bilang begitu,” Toni merasa lega sekarang. Dia mengisi lagi gelasnya. “Itu takdir kan, Bu?” katanya pada wanita setengah baya, yang sedari tadi hanya memperhatikan saja.

Roy menyudahi makan siangnya. Dia meneguk sekali teguk minumannya. Dia beranjak ke ruang tengah. Kelihatannya dia tidak enak sekali disindir begitu oleh sahabatnya.

“Ketika aku tabrakan dulu, kamu nggak cengeng seperti sekarang, Roy!” Toni menguntit. “Aku turuti semua nasehatmu waktu malam tahun baru itu. Sehingga sampai saat ini, aku masih tetap bergairah untuk hidup.

Katamu, apalah artinya sebuah kaki kalau jiwa kita sendiri cacat. Kan ada kaki palsu, begitu katamu. Masih ingat kan semua omongan-omongan waktu itu, Roy? Kamu sebut aku bancilah, pengecutlah. Tapi aku senang, karena omonganmu itu melecut semangat hidupku.

Dan sekarang, kamu…”

“Apa ada telinga palsu, Ton?” potong Roy jengkel.

Toni tertawa lucu, “Roy, Roy, Roy! Kan bisa dioperasi plastik,” sobatnya menegaskan.

Roy tidak menanggapi. Tapi hati kecilnya berkata: betul juga. Kemudian dia melihat sebuah surat beramplop besar yang tebal isinya, dari HAI. Dan sebuah surat biasa, yang dilihat dari stempel posnya sih, dari kota Solo. Siapa? Nama si pengirimnya cuma: penggemarmu. Itu saja. Sialan! gumamnya jengkel. Dari siapa dia tahu alamat rumahku? batinnya. Dia memang meminjam alamat redaksi HAI saja jika ada pembaca yang ingin berkenalan dengannya.

“Surat dari siapa, Roy? Tebel gini,” Toni membaca nama si pengirimnya, “dari HAI,” katanya lagi sambil menimang-nimangnya.

“Ini surat nyasar lagi!” Roy menyobek sembarangan bagian pinggirnya. Sambil duduk dia membaca surat itu:

Buat Roy
yang belagu

Kamu jangan kaget or histeria dengan surat saya yang datang tiba-tiba ini. Saya bisa tahu alamat kamu dari surga. Sewaktu saya main ke sana, ketemu si Joe, anjing herdermu (maaf kalau saya jadi mengingatkan kamu tentang si Joe). Joe itu baek. Makanya Joe ngasih alamat kamu. Kata Joe, kamu juga baek. Makanya saya nulis surat sama kamu.
O ya, kenalin nama saya “Watni”. Nama saya bagus. Saya bangga. Tapi sebelum saya punya nama sebagus itu ada ‘sejarahnya’. Waktu umur 5 hari-an, saya dikasih nama “Watno” sama eyang saya. Jelas saya protes! Wong saya cewek, manis lagi. Genit-genit montok, ngegemesin. Heh, saya dieeem aja. Nggak mau nangis. Nggak mau ASI. Terus orang tua saya ngerasa kali. Nama saya diganti dengan “Surtiwati”. Uhh, saya jadi histeris, nangis jerit-jerit: oe oe … a – i – u – e – o – … (ih, ini sih lomba bibir indah, ya?)
Masa sih, lucu-lucu gini (keren lagi) namanya “Surti”! Akhirnya keluarga saya puasa 7 hari 7 malem. Hasilnya nama “Watni” yang bagus ini.
Sori, rada ngelantur.
Saya seneng sekali dengan cerita-cerita kamu. Cerita kamu aneh, penuh misteri. Acuh dan selalu kesepian (kayak hidup saya). Lantas saya suka jadi ‘pemimpi’, merindukan suatu kehidupan yang pernah gagal saya capai. Impian kehidupan saya tergambarkan oleh cerita-cerita kamu. Makanya saya suka sekali cerita kamu, yang menjadi semacam ‘penghibur’ dan ‘kompensasi’.
Saya suka lupa memisahkan antara dunia nyata dan dunia rekaan. Dalam situasi yang sulit, memang orang cenderung melarikan diri dari kenyataan dengan mencari pemuasan ke dunia mimpi ya, Roy?

Saya di sini memang lagi butuh seorang sobat yang baek, saling mengerti, saling bantu, percaya, etc. Karena ada kamu, jadi saya nggak perlu cari yang lain kan? Orang-orang bijak bilang: persahabatan membuat suka cita berganda dan duka terpenggal (hu… senengnya).
Untuk pertama, udah segini aja. Balas lho! Saya kan udah capek-capek nulis surat ke kamu. Khabar burung, pengarang tuh suka males ya ngebalesin surat? Nggak ada dana prangkonya? Hihihi… makanya saya sisipin prangko nih, biar cepet kamu bales.

Salam
Watni

Si bandel itu tersenyum kecil. Dia masih memandangi surat gombal itu. Tapi hatinya jelas gembira, karena cerita-ceritanya ada yang menyukai. Sebuah kegembiraan baginya, yang mungkin tidak akan terbeli seharga berapa pun.

“Baca deh, Ton,” Roy menyerahkan surat itu.

“Dari siapa?”

Fans,” Roy tertawa sambil merobek bagian pinggir surat tebal dari HAI.

Toni menatapnya gembira. Dia mulai membaca surat itu sambil tersenyum-senyum.

Si Roy tampak terkejut juga ketika melihat isi amplop itu beberapa belasan surat dari pembaca yang menyukai cerita-ceritanya. Mereka membacai satu persatu nama pengirimnya sambil tertawa-tawa.

Mamanya muncul.

“Surat-surat dari pembaca, Ma,” kata Roy gembira menunjukkan surat-surat itu.

Betapa gembiranya wanita setengah baya itu. Bahagia. “Harus kamu balas semua surat-surat itu, Roy,” saran mamanya. “Kalau tidak dibalas, berarti kamu mengecewakan mereka dan akan kehilangan mereka. Kehilangan kesempatan berikutnya. Karena sukses tidaknya seorang pengarang terletak dari banyak tidaknya pembaca yang menyukai karanganmu.

Pintu sudah terkuak, Roy. Tinggal pandai-pandainya kamu untuk bisa membukanya lebih lebar lagi dan masuk ke dalamnya. Masuk ke alam yang masih baru bagi kamu.

Ingat, kamu masih awam untuk hal ini. Hati-hati, jangan karena surat-surat ini lantas kamu takabur dan malah jadi hancur. Biasanya kesuksesan yang terlalu cepat datang suka menenggelamkan seseorang. Mulai sekarang kamu harus memperhitungkan segalanya dengan matang. Mulai menentukan sikap. Berusaha untuk merubah tingkah laku agar berkembang dan maju,” wanita setengah baya itu mengakhiri kalimatnya yang panjang. Matanya berbinar dan berkaca-kaca. Dia bahagia sekali memandangi anak lelakinya.

Roy tercenung merenungi kalimat-kalimat tadi. Ini surprise. Segalanya di luar batas kesadarannya. Dia menyadari ini sebab akibat. Tapi, sebetulnya dia merasa belum apa-apa. Belum seujung kuku. Belum bisa menularkan trend permen karet dan rambut gondrong model John Taylor. Dia hanya ingin menulis saja. Menulis segala kegelisahan dan kemarahannya terhadap lingkungan.

“Ke sport hall yuk, Roy!” Toni mengalihkan pembicaraan.

“Ngapain?”

“Ada basket. Anak SMA 1 sama klub Gundala.”

“Asyik, ngeceng dong!” Roy memberesi surat-surat itu. Menumpuk dan menyimpannya di kamar. “Kebetulan aku lagi kusut banget. Siapa tahu habis ngeceng, aku sehat lagi!” dia tertawa dan begitu bergairah.

“Pulangnya nengok Iwin, ya!” usul Toni.

Roy menatapnya. Dia lantas menghindar.

Kenapa kamu, Roy?

***

Sport Hall hanya terisi seperlimanya saja. Mungkin remaja-remajanya sedang mengisi hari Minggunya ke suatu obyek wisata atau menghabiskan waktunya seharian di rumah. Di lapangan kesepuluh putra berkaos singlet itu masih melakukan pemanasan.

Roy masih berdiri di pintu sebelah utara. Matanya jelalatan. Toni sedari tadi sudah bergabung dengan kawan-kawan sekolahannya. Ada juga di antara mereka yang masih Roy kenal, karena memang Roy juga pernah satu sekolahan dengan mereka. Hanya saja nasibnya sial. Dia keluar dan pindah ke SMA Katolik.

Si bandel itu melihat seorang gadis duduk sendirian. Dia cuek sekali. Kebetulan gadis itu menoleh dan tertuju kepadanya. Mereka seperti pernah saling kenal. Kedua-duanya saling melempar senyum. Roy menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Hai,” sapa Roy.

“Hai juga,” dia masih tersenyum. Matanya berpindah ke lapangan.

Lagi-lagi hitam manis, batin Roy. Dia mengingat-ingat di mana pernah melihat gadis manis ini. “Kayaknya aku pernah lihat kamu,” si Roy penasaran. “Tapi, di mana ya?”

“Khabar Jesse, gimana?” gadis ini meledek.

Roy tersentum kecut. Ow ow ow! dia baru ingat sekarang. Si manis ini pernah dilihatnya pada partai final open turnamen basket ball “Kamayasa Cup” yang baru lalu. Dia satu regu dengan Jesse, si keren, yang baru saja memutuskannya.

“Namaku ‘Roy’,” dia menyebut namanya.

“Suci,” si manis ini tersenyum.

“Ceweknya main, nggak?”

Si manis menggeleng.

“Sendirian?”

Si manis mengangguk.

“Aku temani, boleh?”

“Dengan senang hati,” Suci tertawa. Lesung pipitnya sekilas tampak.

Pertandingan persahabatan itu sudah berjalan. Bola berpindah-pindah tangan teramat cepatnya. Tapi kelihatannya para penonton lebih tertarik memperhatikan tribun daripada ke lapangan. Yang cowok tentunya ngecengin yang cewek. Begitu juga sebaliknya. Jadi yang main basket ya main basket, para penonton ya para penonton.

“Eh, aku punya tebakan,” Roy kurang kerjaan.

“Apa?” Suci tersenyum kecil.

“Botak, masuk sumur!” Roy tersenyum simpul.

Suci tampak berpikir sambil tersenyum lucu. Dia menggelengkan kepala tidak sanggup menebaknya.

Roy masih tersenyum simpul.

“Apa jawabnya, Roy?” Suci penasaran.

“Kamu dibotakin, aku ceburin ke sumur!” si bandel itu terbahak-bahak. Dia gembira sekali bisa ngerjain si manis ini.

Suci gemas sekali. Dia mencubit paha Roy yang masih saja terbahak-bahak. “Bau, jelek, dan brengsek, apa?” Suci tidak mau kalah.

“Bau dan brengseknya, okelah. Tapi jeleknya ini, nggak betul,” Roy menahan tertawa.

“Pokoknya, apa?”

“Aku, ya?” si bandel itu tersenyum menang.

“Wuuuh…” Suci memukul paha Roy.

Mereka semakin asyik ngocol, tidak peduli orang-orang yang sedang memantul-mantulkan bola itu. Lalu Toni ikut nimbrung. Mereka semakin ramai seperti penjual obat.

“Kalian mau nggak aku traktir?” Suci menawarkan.

“Lagi banyan duit?” ledek Roy.

“Aku sih, oke aja!” Toni mengiyakan.

Ketiga remaja itu jalan kaki sambil diselingi tawa yang cerah manja dari bibir Suci. Orang-orang yang melihat mereka pasti akan iri dan kalau diperbolehkan, tentu ingin sekali meminta barang secuil kegembiraan mereka.

Suci tampak menarik lengan Roy agar jalan agak cepat. Si bandel itu mengerti maksudnya. Dia mempercepat langkahnya. Toni menggerutu menyeret kaki palsunya.

“Hei, sentimen banget!” gerutunya.

Si Roy dan Suci pura-pura tidak menggubris. Lantas ketika sudah berjarak 50 meter, mereka berhenti dan tertawa senang.

“Cepetan dong!” Suci tersenyum.

“Jalan kamu menghambat pembangunan, Ton!” ledek Roy.

Toni tersenyum kecut.

Mereka masuk ke sebuah tempat jajanan.

“Kayaknya kita salah masuk, nih,” kata Toni. “Kelapanya tua-tua.”

“Satu aja deh, kelapa mudanya!” pesan Roy.

Lantas satu es kelapa muda sama-sama mereka makan. Suci berperan sekali. Dia tanpa sungkan-sungkan menyuapi kedua kawan barunya itu sambil sesekali bercanda. Bahkan mereka bergiliran menyuapi.

“Buka dong mulutnya, Roy!” kata Suci kesal.

“Sabar sih, yang di mulut aja belon habis!” Roy masih mengunyah. Akhirnya dia membuka mulut juga. Memakan lagi kelapa muda yang disodorkan si manis. “Wah, jahat kamu!” Roy terbatuk-batuk, karena si manis itu sengaja memasukkan sendoknya lebih dalam.

Mereka tertawa-tawa.

Si bandel sendiri sedari tadi mata dan hatinya terus mengikuti setiap gerakan si manis. Betapa menyenangkan gadis ini, batinnya. Pintar membuat suasana yang cerah, sehingga dia yang tadinya mengkerut dan sumpek terasa lapang dan bergairah lagi. Si manis ini membawa angin segar bagiku, begitu kesimpulannya.

Lantas mereka naik becak saling tumpukan menuju tempat jajanan yang lain di Royal. Roy duduk di tengah-tengah dan mereka sengaja hanya sedikit memberikan tempat buatnya. Lantas Roy jongkok saja sambil menggerutu.

“Ongkos becaknya biar aku yang bayar, ya!” kata Roy.

“Nggak bisa. Aku kan janji yang nraktir kalian,” Suci tersenyum manis.

“Wah, aku nggak punya uang kecil,” Toni berlagak merogoh saku hendak membayar ongkos becak.

“Kamu mau apa?” Suci mengambil kertas dan pulpen.

“Juice sirsak aja, deh,” kata Roy.

“Aku alpuket,” pesan Toni.

“Aku kopi,” Suci melucu sambil tertawa kecil.

Si manis ini betul-betul menyenangkan.

Selagi menikmati jajanan, Suci tidak habis-habisnya bercerita tentang hal yang lucu-lucu, sehingga kedua lelaki itu tergelak-gelak. Misalnya, cerita tentang pak Haji yang memberi uang seribu rupiah kepada anak kecil yang naik pohon jambu, tanpa memakai celana. Pak Haji menyuruh anak kecil itu turun dan membeli celana dengan uang seribu itu.

“Nyobain ya juice-nya, Roy!” tanpa sungkan Suci menyendoknya. Menyuapinya. “Mau nyoba otak-otak gorengnya?” si manis ini sudah menusuknya dengan garpu dan menyodorkannya ke mulut Roy. Lantas ke mulut si Toni.

Mereka seperti sudah kenal lama saja.

Thanks ya, Suci. Karena kamu, aku jadi bergembira lagi lho,” kata Roy serius.

Suci tersenyum manis. “Tapi, lain kali gantian kamu yang nraktir lho,” ledeknya.

Roy tertawa.

“Eh, betul nih nggak usah kami antar?”  tanya Toni.

Suci menggeleng dan naik ke becak.

“Jagain ya, Mang!” Roy tertawa gembira.

Mang becak itu hanya tersenyum.

Mereka saling melambaikan tangan.

Sore yang menyenangkan.

“Manis ya, Ton?”

Toni mengangguk.

“Udah punya pacar belon, ya?”

Toni mengangkat bahunya.

Si bandel itu bersiul-siul dan matanya berbinar-binar. Dia merangkul pundak sahabatnya. “Kita nengok Iwin, yuk!” ajaknya. “Mudah-mudahan Iwin bisa mengerti posisiku, Ton.”

Toni tersenyum. Sobatku sudah kembali lagi, batinnya.

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan