Magang Politik a la Prabowo Subianto

Magang Politik a la Prabowo Subianto

Sosok bernama Prabowo Subianto itu hari-hari ini sangat menarik untuk dibahas. Sebagai seorang figur publik yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sejak masih berkarir di dunia militer, kiprahnya seringkali menjadi sorotan. Baik sorotan yang bernuansa gemerlap, maupun sorotan yang bernuansa suram. Naik-turunnya nama Prabowo Subianto di panggung politik nasional pun seringkali menjadi bahan pembahasan di masyarakat.

Hari ini, Rabu 23 Oktober 2019, Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju, yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Sejak beberapa bulan sebelumnya, Prabowo Subianto telah melakukan pertemuan-pertemuan dengan berbagai pihak yang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 berseberangan dengan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu. Dbingkai dengan jargon “Kami siap membantu pemerintah” dan dilaksanakan di tengah seruan sebagian pendukungnya agar dia dan partainya tetap menjadi oposisi terhadap pemerintah, tindakan itu seakan-akan menjadi anti-klimaks dari panasnya kontestasi antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden Republik Indonesia, yang sudah berlangsung sejak Pilpres 2014.

Mengapa Prabowo sekarang memilih untuk mengubah arah politik partainya? Apakah dia tidak peduli pada keinginan para pendukungnya, baik di dalam partainya sendiri maupun di luar partai, agar tetap menjadi oposisi atas pemerintahan Joko Widodo?

Jika seseorang hanya melihat panggung politik sebagai tempat para politisi mencari jabatan, mungkin apa yang ditunjukkan Prabowo itu akan dinilai secara negatif. Jika panggung politik dinilai hanya sekedar sarana untuk mengejar kekuasaan atau menjadi bagian dari kekuasaan, mungkin sosok Prabowo akan dijadikan contoh pemimpin yang dengan mudahnya meninggalkan pendukungnya demi sebuah kursi kabinet.

Sebagai seorang tentara, anak seorang tokoh ekonomi yang berpengaruh, dan kemudian mendirikan partai politik yang besar dengan jutaan pendukung, Prabowo tidak sekedar bertindak untuk dirinya sendiri. Dia bukan lagi sekedar seorang warga negara biasa. Dia adalah tokoh bangsa, seorang pemimpin, dan panutan bagi pendukungnya. Apa pun yang dilakukan olehnya, harus melalui pemikiran yang bersungguh-sungguh. Ditimbang baik dan buruknya dari berbagai sisi, dan dipengaruhi oleh keadaan bangsa, negara, dan tentu saja orang-orang dekat di sekitarnya. Dia harus menjadikan dirinya seorang masinis, yang tidak boleh menjalankan keretanya menurut keinginannya sendiri, namun juga tidak boleh sekedar menuruti apa pun keinginan penumpangnya.

Sebagai tokoh dan pemimpin, Prabowo ingin menyumbangkan kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan ide-idenya, bagi bangsa dan negara. Prabowo telah melakukannya melalui Gerindra, mengumpulkan dan membentuk orang-orang yang kompeten dalam berbagai bidang, dan menjadi kendaraan bagi mereka untuk duduk di kursi legislatif nasional maupun daerah. Mereka telah ikut memberi sumbangsih dalam pelaksanaan fungsi legislatif di negara demokrasi ini. Dan kader-kader Gerindra juga ada yang duduk di jajaran eksekutif, menjadi kepala atau wakil kepala daerah.

Namun Prabowo juga memahami bahwa tidak mudah untuk melaksanakan tugas, baik sebagai legislatif maupun eksekutif. Urusan kenegaraan tidaklah sekedar mengkritisi kebijakan, merancang program kerja, mengoordinir anak buah, ataupun membuat dan mengawasi anggaran. Tanpa pengalaman yang cukup di ruang lingkup yang memadai, seseorang akan kesulitan menjalankan sebuah tugas. Apalagi di tingkat nasional, yang akan berpengaruh kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan kebutuhan akan pengalaman itu berlaku bagi siapapun, termasuk bagi orang-orang yang sudah kenyang pengalaman di dunia politik. Seperti Prabowo Subianto dan Gerindra.

Prabowo sadar bahwa dirinya belum pernah berada dalam pemerintahan. Orang-orang dekatnya di Partai Gerindra hampir seluruhnya juga belum pernah, terutama di tingkat nasional. Dari sisi itu, mereka bisa dibilang sama sekali belum berpengalaman. Ketika mereka di jajaran legislatif bersikap sebagai oposisi terhadap pemerintah, mereka memang menjalankan proses check and balance atas kebijakan pemerintah. Tetapi itu bukan berarti bahwa mereka pasti sanggup berbuat lebih baik dari orang-orang yang mereka kritisi, meskipun kesan seperti itu mungkin tertanam di pola pikir sebagian pendukung Prabowo dan Partai Gerindra. Sebagaimana para komentator sepak bola yang sangat lihai menganalisa kelemahan taktik sebuah tim, belum tentu bisa melakukannya lebih baik jika mereka yang menjadi pelatih atau manajer tim itu.

Dengan segala kelebihan mereka sekalipun, Prabowo dan Gerindra tetap memerlukan pengalaman untuk bisa menjalankan peran mereka lebih baik, sebagai legislatif maupun sebagai eksekutif. Dan di tingkat nasional, pengalaman itu sangat mereka perlukan agar mereka bisa menjalankan pemerintahan sesuai dengan platform partai mereka secara efektif, jika kelak Prabowo dan Gerindra mendapat kesempatan untuk memimpin pemerintahan.

Di antara partai-partai yang secara nasional lolos ambang batas parlementer pada Pemilu 2014 dan 2019, hanya Gerindra yang belum pernah berada di dalam pemerintahan. PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKB, Partai Demokrat, PAN, Partai Nasdem, PPP, Partai Hanura, bahkan PKS pun, semuanya pernah berada di dalam pemerintahan. Sehingga sangat wajar jika Prabowo membawa Gerindra masuk ke pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang tidak akan maju lagi dalam Pilpres 2019.

Apakah masuknya Gerindra ke dalam pemerintahan membawa agenda tersembunyi yang dapat merugikan pemerintahan Joko Widodo di periode kedua ini? Bisa saja. Tetapi rasanya Prabowo bukan orang yang sangat bodoh yang akan mengorbankan visi jangka panjang demi mencapai tujuan jangka pendek, apalagi mengorbankan kepentingan bangsa dan negara hanya demi kepuasan pribadi dan kelompoknya saja.

Kita akan bersama-sama melihat bagaimana sepak terjang Prabowo Subianto, dan Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo yang menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam pemerintahan. Masyarakat akan dapat menilai (dengan sudut pandang masing-masing) apakah bergabungnya Gerindra ke dalam pemerintahan membawa manfaat bagi bangsa dan negara, atau sebaliknya. Yang harus selalu diingat adalah bahwa dalam politik, tidak ada lawan ataupun kawan yang abadi. Namun di sisi lain, bagi seorang patriot sejati, kepentingan bangsa dan negara selalu lebih utama daripada kepentingan politik sesaat.

 

Sumber foto: Halaman Facebook Partai Gerindra

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan