Belajar Tentang Pergerakan Bumi Terhadap Matahari

Belajar Tentang Pergerakan Bumi Terhadap Matahari

Bulan Oktober 2019 ini cuaca di Indonesia terasa sangat panas. Suhu udara tertinggi pada siang hari di berbagai wilayah Indonesia ada yang tercatat mencapai lebih dari 38°C, menurut press release dari BMKG tanggal 21 Oktober 2019.

Dalam press release tersebut, BMKG menjelaskan bahwa cuaca panas tersebut dipengaruhi oleh dua hal, yaitu posisi gerak semu matahari yang bergerak ke belahan Bumi selatan, dan atmosfir yang kering sehingga sedikit sekali awan yang terbentuk.

Posisi matahari dilihat dari bumi dipengaruhi oleh rotasi (perputaran bumi pada porosnya) dan revolusi (pergerakan bumi pada orbitnya mengitari matahari). Rotasi bumi adalah penyebab terjadinya siang dan malam. Karena bentuk bumi yang hampir bulat, maka radiasi matahari yang sampai ke bumi hanya bisa menerangi sebagian permukaan bumi yang pada saat itu sedang menghadap ke arah matahari. Permukaan bumi yang menerima radiasi matahari tersebut mengalami siang hari. Sedangkan sebagian permukaan bumi lainnya yang pada saat itu sedang membelakangi matahari, mengalami malam hari yang gelap.

 

Rotasi bumi (siang & malam)

Sumber: https://gfycat.com/palatablefinishedbichonfrise

 

Satu rotasi bumi berlangsung selama 23 jam dan 56 menit (satu hari). Jika kita berdiri di titik paling utara di Kutub Utara, maka kita akan melihat rotasi bumi adalah melawan arah putaran jarum jam, yaitu dari barat ke timur. Sehingga kita melihat matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, berlawanan dengan arah rotasi bumi.

Rotasi bumi pada porosnya tersebut tidak sepenuhnya tegak lurus, melainkan miring sekitar 23,5° terhadap lingkar khatulistiwa. Kemiringan tersebut menyebabkan ada bagian bumi yang mengalami siang lebih panjang dari malam, dan sebaliknya. Dan kondisi panjangnya siang dan malam tersebut dipengaruhi pula oleh revolusi bumi.

 

Panjangnya siang & malam di wilayah yang berbeda

Sumber: https://slideplayer.com/slide/5873333/

 

Satu kali revolusi bumi pada orbitnya mengitari matahari berlangsung selama 365,24 hari (satu tahun). Jika poros bumi memiliki kemiringan yang menyebabkan perbedaan panjangnya siang dan malam, maka orbit bumi bentuknya tidak sepenuhnya lingkaran, melainkan sedikit lonjong menyerupai elips.

Perbedaan panjangnya siang dan malam terjadi tidak secara tetap di tempat-tempat yang sama sepanjang tahun, melainkan bergeser sesuai posisi bumi terhadap matahari dalam perjalanan revolusinya. Pada bulan Juni, belahan bumi utara mengalami June solstice, yaitu ketika gerak semu matahari dilihat dari bumi berada pada posisi paling utara. Pada saat itu, belahan bumi utara mengalami puncak musim panas dan siang hari berlangsung paling panjang, sedangkan belahan bumi selatan mengalami puncak musim dingin dan malam hari berlangsung paling panjang.

Pada bulan Desember, belahan bumi selatan mengalami December solstice, yaitu ketika gerak semu matahari dilihat dari bumi berada pada posisi paling selatan. Pada saat itu, belahan bumi selatan mengalami puncak musim panas dan siang hari berlangsung paling panjang, sedangkan belahan bumi utara mengalami puncak musim dingin dan malam hari berlangsung paling panjang.

Gerak semu matahari sepanjang tahun berubah antara kedua solstice tersebut, dan dua kali dalam setahun melewati garis khatulistiwa, yang disebut sebagai equinox. Equinox pertama terjadi pada bulan Maret, dan yang kedua terjadi pada bulan September.

 

Revolusi bumi (musim)

Sumber: https://kas.talentacademy.co.in/2018/12/28/module-3-the-earth/

 

Kita di Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa, tetapi bentang wilayah negara kita meliputi 6° di sebelah utara khatulistiwa hingga 11° di sebelah selatan khatulistiwa. Sehingga memungkinkan perbedaan cuaca di tempat-tempat paling utara di wilayah Indonesia dengan tempat-tempat paling selatan, yang disebabkan perbedaan letaknya terhadap pengaruh radiasi matahari yang diterima sepanjang tahun.

Seperti telah dijelaskan BMKG, di antara bulan September hingga Desember posisi bumi terhadap matahari menyebabkan lebih banyak radiasi yang diterima wilayah-wilayah di sebelah selatan khatulistiwa dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Kondisi tersebut adalah salah satu faktor dalam peningkatan suhu cuaca di beberapa wilayah di Indonesia. Terlebih lagi musim hujan diperkirakan baru mulai pada bulan November di sebagian besar wilayah Indonesia.

Mudah-mudahan kita mendapat manfaat dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam di balik terjadinya cuaca panas ini.

 

Sumber: Internet

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan