Saham Itu Apa Sih?

Saham Itu Apa Sih?

Kalian pernah dengar kata ‘saham’? Atau ‘bursa saham’? Kalian ingin tahu apa ‘saham’ itu?

Saham itu artinya kurang lebih tanda kepemilikan atas sebuah perusahaan. Kalau ada perusahaan (misalnya Persereoan Terbatas, alias PT) akan didirikan, para pendirinya masing-masing nyetor sejumlah uang, yang dikumpulin sebagai modal perusahaan itu. Nah, masing-masing pendiri akan mendapat saham, yang jumlahnya tergantung seberapa banyak uang yang dia setor ke modal perusahaan.

Misalnya Gatot, Binsar dan Made sepakat akan mendirikan perusahaan namanya PT YES. Perusahaan itu harus punya modal. Maka Gatot setor 15 juta rupiah, Binsar setor 25 juta rupiah, Made setor 10 juta rupiah. Totalnya adalah 50 juta rupiah, dijadikan modal PT YES. Nah, PT YES ini mengeluarkan saham, misalnya setor 1 juta rupiah dapat 1 lembar saham. Maka total saham yang dikeluarkan PT YES adalah 50 lembar. Gatot dapat 15 lembar saham, Binsar dapat 25 lembar saham, Made dapat 10 lembar saham. Kalau dihitung secara persentase, Gatot sahamnya 30%, Binsar sahamnya 50%, Made sahamnya 20%.

Gatot, Binsar dan Made adalah para pemegang saham PT YES. Artinya, apapun yang dimiliki PT YES, adalah milik dari ketiga pemegang saham itu, sesuai porsi saham masing-masing. Dan sebagai pemegang saham, mereka juga punya hak memutuskan urusan-urusan penting di PT YES.

Dalam sebuah PT, ada kegiatan yang disebut Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), biasanya diadakan setahun sekali. Dalam RUPS ini semua pemegang saham PT itu hadir. Yang dibahas biasanya adalah susunan pimpinan perusahaan. Misalnya, kalau di perusahaan yang sudah besar, ada direktur utama, direktur keuangan, direktur pemasaran, direktur operasi, dan sebagainya, yang biasa disebut Dewan Direksi. Nah, dalam RUPS bisa dibahas pengenai perubahan susunan Dewan Direksi, atau orang-orangnya diganti.

Selain mengenai Dewan Direksi, biasanya dalam RUPS juga dibahas mengenai hasil usaha perusahaan itu selama setahun, apakah menghasilkan laba atau justru rugi. Kalau mendapat laba, akan diapakan laba itu. Apakah semuanya akan dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen, atau ada sebagian yang digunakan perusahaan untuk mengembangkan usaha, atau mungkin pilihan lain. Dividen adalah laba usaha perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham perusahaan itu.

Dalam setiap pengambilan keputusan dalam RUPS itu, setiap pemegang saham punya hak suara, sesuai dengan jumlah sahamnya. Keputusan yang didukung oleh suara terbanyak, itulah yang menjadi keputusan RUPS.

Misalnya PT YES mendapat laba dari usahanya, dan dalam RUPS dibahas dua opsi soal laba itu. Opsi A, laba dibagikan semuanya sebagai dividen ke pemegang saham. Opsi B, 50% laba dibagikan sebagai dividen ke pemegang saham, 50% laba digunakan PT YES untuk menjalankan usaha. Gatot memilih opsi A, Binsar dan Made memilih opsi B. Karena gabungan jumlah saham Binsar dan Made lebih banyak dari Gatot, maka diputuskan opsi B yang dijalankan. Gatot tidak bisa protes, karena hak suaranya memang lebih kecil dari gabungan hak suara Binsar dan Made.

Nah, misalnya 50% laba yang dibagikan sebagai dividen ke pemegang saham itu totalnya adalah 10 juta rupiah. Maka Gatot akan dapat 30% (3 juta rupiah), Binsar dapat 50% (5 juta rupiah), Made dapat 20% (2 juta rupiah).

Saham bisa dijual ke orang lain, sehingga orang lain itu yang menggantikan sebagai pemegang saham. Misalnya Made menjual sahamnya ke temannya bernama Cecep. Made menjual 10 lembar saham miliknya dengan harga 15 juta rupiah, karena kondisi PT YES bagus. Maka Cecep menggantikan Made sebagai pemegang saham PT YES dengan saham 20%.

Sebuah PT juga bisa menambah modalnya. Misalnya Gatot, Binsar dan Cecep sepakat masing-masing setor 10 juta rupiah. Maka modal PT YES sekarang menjadi 80 juta rupiah. PT YES mengeluarkan lagi 30 lembar saham. Sekarang Gatot punya 25 lembar saham, Binsar 35 lembar saham, dan Cecep 20 lembar saham. Maka persentase saham mereka berubah. Gatot punya 31,25%, Binsar punya 43,75%, Cecep punya 25%.

Selain oleh pemegang saham yang sudah ada, penambahan modal juga bisa berasal dari pihak luar, biasanya disebut investor. Misalnya ada investor bernama Alex tertarik menanam modal di PT YES sebesar 50 juta rupiah. Setelah negosiasi dengan Alex, akhirnya Gatot, Binsar dan Cecep sepakat Alex mendapat saham sebesar 25%. Dengan begitu maka nilai (valuasi) PT YES menjadi 200 juta, meskipun nantinya total modalnya hanya 80 juta + 50 juta, yaitu 130 juta rupiah. Nilai valuasi sebuah perusahaan tidak ada rumusnya, tergantung pada penilaian dan kepercayaan pihak-pihak yang terlibat dalam urusan modal dan saham itu.

Dengan valuasi 200 juta rupiah, sedangkan Alex mendapat 25% saham, maka sisanya yang 75% dibagi bertiga antara Gatot, Binsar dan Cecep, sesuai porsi saham mereka masing-masing. Gatot yang tadinya punya 31,25% turun menjadi 23, 44%, Binsar yang tadinya punya 43,75% turun menjadi 32,81%, dan Cecep yang tadinya punya 25% turun menjadi 18,75%.

Penurunan persentase saham pada saat ada investor baru yang masuk, disebut dilusi. Meskipun secara persentase turun, tetapi secara nilai uang justru naik karena valuasi perusahaan juga naik. Gatot memiliki 23,44% dari 200 juta, senilai 46,88 juta rupiah, padahal total yang dia setor ke modal hanya 15 juta + 10 juta, yaitu 25 juta rupiah. Binsar memiliki 32,81% dari 200 juta, senilai 65,62 juta rupiah, padahal total yang dia setor ke modal hanya 25 juta + 10 juta, yaitu 35 juta rupiah. Cecep memiliki 18,75% dari 200 juta, senilai 37,5 juta rupiah, padahal total yang dia bayar ke Made 15 juta dan setor tambahan modal 10 juta, yaitu 25 juta rupiah.

Sampai saat itu, PT YES masih berupa perusahaan dengan modal tertutup, (biasa disebut private company) yang berarti sahamnya hanya bisa diperdagangkan secara tertutup. Valuasi perusahaan ditentukan oleh para pemegang saham.

Sebuah perusahaan juga bisa menarik modal dari masyarakat, dengan cara mengeluarkan saham yang bisa dibeli oleh masyarakat. Ketika saham sebuah perusahaan bisa dimiliki oleh masyarakat umum, maka perusahaan itu disebut sebagai public company. Tempat untuk melakukan jual beli saham adalah di bursa saham, atau disebut juga bursa efek. Perusahaan itu mencatatkan (listing) saham yang dikeluarkan untuk publik di bursa saham, dan masyarakat yang sudah menjadi anggota di bursa saham bisa memperdagangkan saham perusahaan itu.

Kegiatan suatu perusahaan pertama kali menawarkan sahamnya untuk dimiliki masyarakat umum, disebut Initial Public Offering (IPO). Setelah sahamnya mulai diperdagangkan di bursa, maka harga saham perusahaan itu ditentukan oleh pasar (market). Valuasi perusahaan itu juga ikut ditentukan oleh pasar, sehingga disebut market value.

Misalnya PT YES sudah semakin besar, dan memutuskan akan listing ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah saham baru yang akan dikeluarkan PT YES untuk publik akan menghasilkan persentase saham milik publik sebesar 10%. Karena ada saham baru yang dikeluarkan perusahaan, maka para pemegang saham yang sudah ada akan mengalami dilusi atas persentase sahamnya.

Begitu sahamnya mulai aktif diperdagangkan di bursa, market value PT YES akan bergerak naik atau turun mengikuti harga saham PT YES di BEI. Maka nilai seluruh saham yang dimiliki oleh Gatot, Binsar, Cecep dan Alex pun akan naik atau turun dipengaruhi market.

Kalau kamu ingin memiliki saham PT YES, kamu harus mendaftar ke salah satu perusahaan sekuritas yang menjadi anggota BEI, msalnya Mandiri Sekuritas. Setelah itu kamu akan bisa membeli saham-saham yang diperdagangkan di BEI. Kalau kamu membeli sebuah saham pada saat harganya sedang turun, kemudian kamu menjualnya ketika harganya naik lagi, maka kamu akan mendapat laba. Kegiatan jual beli saham untuk mendapatkan laba itu disebut trading. Tentu saja tidak bisa dipastikan bahwa trading selalu menghasilkan laba. Diperlukan banyak pengetahuan dan pengalaman untuk bisa trading saham dengan hasil yang memuaskan.

Selain trading, kamu juga bisa membeli saham di bursa tapi tidak untuk segera kamu jual lagi. Misalnya PT YES setelah satu tahun listing di bursa ternyata harga sahamnya cenderung terus naik, dan laba usahanya pun meningkat sehingga dividen yang dibagikan kepada pemegang sahamnya juga besar. Kamu bisa juga membeli saham PT YES dengan tujuan untuk mendapatkan dividen, sementara nilai sahammu pun terus meningkat dalam beberapa tahun. Apa yang kamu lakukan itu adalah sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang seperti Gatot, Binsar, Made, Cecep, atau Alex, yang menanamkan uang mereka sebagai modal di PT YES, dengan harapan nilai uang mereka akan terus meningkat di masa mendatang.

Nah, mudah-mudahan sekarang kamu sudah mulai paham tentang saham.

 

Sumber gambar: Liputan6.com

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan