Kobe Bryant meninggal sebagai ayah terbaik

Kobe Bryant meninggal sebagai ayah terbaik

 

Kobe Bryant meninggal dalam menjalani kesehariannya sebagai seorang ayah. Tidaklah mengagetkan, karena sudah sejak lama menjadi seorang ayah menjadi hal terpenting dalam hidupnya, bahkan lebih penting dari pencapaiannya membawa Los Angeles Lakers menjuarai NBA lima kali dan terkenal di seluruh dunia.

Di lapangan basket, dia dikenal sangat fokus, bersungguh-sungguh, dan kompetitf. Dia menginspirasi orang di dalam maupun di luar dunia olahraga dengan kemampuannya untuk bukan hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas, dalam rangka memaksimalkan dirinya sebagai seorang pemain.

Tidak jauh berbeda dengan kehidupan pribadinya, dimana setiap kelahiran seorang dari keempat putrinya menjadikan kehidupannya, betapapun gemilangnya, lebih dari sekedar dirinya sendiri.

Begitulah yang terjadi dengan para ayah pada umumnya, setidaknya mereka yang menyadari betapa perubahan dalam cara pandang mereka bisa menjadi anugerah terindah dalam hidup. Pada Kobe, meskipun kesadaran itu bukan seperti acara yang ditayangkan di televisi nasional setiap minggu, tetapi justru bisa lebih menginspirasi dibandingkan menyaksikan lemparannya yang masuk tepat pada saat bunyi bel berakhirnya pertandingan.

Kobe Bryant meninggal hari Minggu tanggal 26 Januari 2020 di usia 41 tahun, dalam sebuah kecelakaan helikopter. Delapan orang lainnya juga meninggal dalam kecelakaan tersebut, termasuk putrinya yang berusia 13 tahun, Gianna. Mereka saat itu sedang dalam perjalanan menuju tempat latihan basket Gianna. Kedua orang ayah dan anak itu sama-sama mencintai olahraga basket dan semangan berkompetisi, sehingga sang ayah menjulukinya “Mambacita”. Sebuah pujian yang tinggi, karena diberikan oleh Sang Mamba sendiri.

Bepergian dengan helikopter kemanapun, apalagi hanya untuk menuju ke tempat latihan basket anak, mungkin terdengar sangat berlebihan, sesuatu yang mungkin dilakukan oleh seorang yang kaya raya dan terkenal dari Hollywood. Bukan yang ini. Bukan yang dilakukan Kobe. Semuanya itu semata-mata karena hasratnya untuk sebisa mungkin menjadi seorang ayah yang terbaik.

Itu berawal dari masa-masa dia masih bermain. Kobe dan istrinya, Vanessa, dianugerahi seorang anak perempuan, Tatiana, pada tahun 2003, dan kemudian lahir pula Gigi pada tahun 2006. Setelah itu lahir Bianka pada tahun 2016, dan Capri pada tahun 2019. Hadirnya Tatiana dan Gigi-lah yang mengubah cara hidup Kobe.

Dia bersama Vanessa memilih tinggal di wilayah Huntington Beach (daerah asal Vanessa). Bukan di L.A., atau Beverly Hills, atau dimanapun di wilayah barat L.A. Lakers bermain di pusat kota L.A., dan stasiun kereta api terletak di El Segundo, di dekat bandara. Tinggal di daerah-daerah itu mestinya lebih nyaman demi pekerjaannya. Tetapi Kobe ingin tinggal di Huntington Beach. Menurutnya, tempat itu terasa sesuai bagi sebuah keluarga.

“Di sana orang-orangnya asyik,” dia sering bilang.

Perjalanan pergi-pulang ke pertandingan dan/atau latihan tidaklah nyaman. Membutuhkan waktu hingga satu jam sekali jalan, jika tidak ada hambatan. Bisa mencapai dua jam, jika sedang macet. Bukannya pindah ke wilayah yang lebih dekat dengan pusat kota, ketika rasa frustasi semakin memuncak akibat terbuangnya waktu dalam perjalanan, dia justru mencoba mencari alternatif selain mengendarai mobil.

“Pada akhir pekan sekalipun … kemacetan sangat parah,” kata Kobe dalam sebuah acara podcast di tahun 2018. “Dan aku terlambat datang ke sebuah pertandingan di sekolah karena harus terjebak kemacetan. Dan kejadian seperti itu semakin sering terjadi. Aku harus menemukan cara agar aku bisa tetap berlatih dan fokus ke tugasku tanpa harus mengurangi waktuku untuk keluarga. Pada saat itulah aku mulai mempertimbangkan helikopter.”

Triliuner Mark Cuban sering mengatakan bahwa ada satu hal yang tidak bisa ia beli: waktu. Tetapi Kobe mecobanya. Dengan perjalanan udara, dia mendapatkan solusi untuk mencapai kedua hal terpenting baginya: bermain mati-matian bagi Lakers, sambil mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang ayah seperti umumnya.

Maka dia pun bisa tiba di tempat latihan Lakers dalam waktu hanya 15 menit. Dia bisa menjalankan segudang aktivitasnya sebagai pemain dan tetap bersikap seperti seorang ayah yang bekerja di rumah.

“Kegiatan saya sehari-hari selalu sama,” kata Kobe. “Angkat beban pagi-pagi sekali, mengantar anak ke sekolah, terbang, berlatih seperti orang kesurupan, mengerjakan tugas-tugas tambahan, media, dan segala yang perlu aku lakukan. Lalu terbang lagi, tiba di antrian mobil penjemput, dan membawa anak-anak pulang.”

Ya, Kobe Bryant ikut antri menjemput anak di sebuah sekolah dasar di Orange County, persis seperti ibu atau ayah lainnya. Dia bukan sekedar menjalankan tugas. Dia mencintai kegiatan itu.

Dia mengatakan, seperti itulah seorang ayah. Bukan hal-hal yang besar. Bukan hal-hal yang mewah. Justru dalam urusan sehari-hari. Hal-hal yang nyata. Obrolan-obrolan yang timbul begitu saja. Cara pandang yang hanya bisa dipelajari sendiri. Rasa percaya dan cinta yang dibangun. Secara alami.

Dia tidak ingin kehilangan satupun dari hal-hal itu hanya karena dia kebetulan adalah seorang pemain basket terbaik di dunia. Dia ingin melakukan hal-hal seperti itu semuanya.

“Istriku biasanya akan bilang, ‘Aku saja yang menjemput,'” kata Kobe. “Dan [Kobe berkata], ‘Jangan, jangan. Aku ingin melakukannya.'”

Kalau dia bisa bersama putri-putrinya, maka dia akan bersama mereka.

“Aku akan bepergian atau semacamnya, dimana aku tidak bisa melihat mereka,” kata Kobe. “Maka setiap kali aku bisa melihat mereka dan menghabiskan waktu bersama mereka, meskipun hanya 20 menit di dalam mobil, aku ingin itu.”

Bisakah mereka mengendarai mobil ke latihan yang bertempat di wilayah utara L.A. pada hari Minggu naas itu? Mungkin saja. Dan mungkin juga Kobe ingin memaksimalkan waktunya pada hari Minggu itu bersama istri dan ketiga anaknya yang lain. Dia seorang ayah yang praktis. Mereka telah menjadi kebanggaannya dalam hidupnya.

Kobe tetap menyaksikan langsung beberapa pertandingan Lakers meskipun dia sudah pensiun bermain, tetapi dia tidak selalu hadir. Bukan karena dia tidak lagi mencintai pertandingan semacam itu. Tetapi ada hal lain yang baginya lebih penting: urusan keluarga, urusan seorang ayah, urusan anak-anaknya.

Basket telah memberikan begitu banyaknya bagi dia, dan memberikan begitu banyak bagi seluruh keluarganya. Namun setelah dua dekade, dia merasa apa yang dia lakukan sudah cukup. Setiap kali dia pergi ke Staples Center dan duduk di sisi lapangan, dia selalu didampingi keluarganya.

Prioritasnya di dunia basket berubah, dari semula mendominasi permainan menjadi seorang ayah sekaligus pelatih berumur 40-an tahun di kalangan remaja pemain basket, membangun kepercayaan diri para remaja putri.

Maka terbanglah dia dengan helikopter pada hari Minggu itu. Sebelumnya selalu aman. Sebelumnya selalu efektif. Sebelumnya selalu menjadi bagian kesehariannya sebagai seorang ayah.

Dan bisa dipahami bahwa jika ada satu hal tentangnya yang paling diinginkan oleh Kobe Bryant untuk dikenal, dan untuk menginspirasi orang lain, maka itu bukanlah tentang menjadi seorang pemain basket yang terbaik.

Itu adalah tentang bagaimana menjadi seorang ayah yang terbaik.

 

Dialih bahasa dari kolom karya Dan Wetzel di Yahoo Sports tanggal 27 Januari 2020: The tragedy of losing Kobe because he was trying to be the best dad

Sumber foto: Instagram

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan